Riwayat Desa Tianyar tidak diketahui
secara pasti kapan tahun berapa Desa ini mulai didirikan dan oleh siapa, karena
memang tidak ada prasati yang memberi petunjuk secara jelas dan dapat
dipercaya.
Menurut
penuturan para sesepuh yang sekarang masih hidup, pada jaman dahulu kala ( Duk
tan hana paran – paran) datanglah seorang Rsi Cakti Bawu Rauh utusan dari
Majapahit untuk bertapa yoga. Karena air pada waktu itu sangat langka bahkan
sampai sekarang masih menjadi problema bagi sebagian penduduk Desa Tianyar,
maka Sang Rsi Cakti Bawu Rauh berdoa memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/
Tuhan Yang Maha Esa agar beliau mengaruniai akan air suci untuk melasti para
Dewa sesudah Odalan dan keperluan lain.
Ternyata
doa tersebut terkabul dan Tuhan mengaruniakan sebuah Telaga ang dinamai oleh
masyarakat “TELAGA NGEMBENG”. Karena itu air yang baru datangnya dari Tuhan
maka diberi nama “TOYA ANYAR”. Toya Anyar berarti air suci.
Akhirnya masyarakat menyebut daerah/desa yang ada Toya Anyarnya menjadi Desa Tianyar yang kita kenal sekarang ini. Perlu diketahui bahwa Telaga tersebut yang sekarang sudah tertutup pasir akibat bencana Gunung Agung tahun 1963, terletak di Dusun Taman Sari.
Akhirnya masyarakat menyebut daerah/desa yang ada Toya Anyarnya menjadi Desa Tianyar yang kita kenal sekarang ini. Perlu diketahui bahwa Telaga tersebut yang sekarang sudah tertutup pasir akibat bencana Gunung Agung tahun 1963, terletak di Dusun Taman Sari.
